Konspirasi Tahu Sama Tahu

 

KALAULAH sekarang bermunculan persoalan menyangkut otonomi daerah, itu merupakan distorsi implementatif atas semangat sesungguhnya dari desentralisasi. “Kegagalan” itu tidak hanya ada di tingkat daerah karena sebenarnya pemerintah pusat yang menggulirkan persoalan tersebut juga mengambil peran.

 

Pemerintah pusat lamban merestrukturisasi diri, merampingkan organisasi agar sejalan dengan visi desentralisasi yang mestinya mempersingkat jalur pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian, supervisi atas otonomi daerah yang tidak efektif menjadikan otonomi daerah yang memasuki tahun ketiga seolah-olah hanya melahirkan masalah.

 

Departemen Dalam Negeri sebagai institusi yang berwenang langsung dalam pelaksanaan otonomi daerah mestinya harus siap “bergesekan” dengan institusi lain yang perannya terkurangi karena kewenangan mereka sudah dilaksanakan oleh daerah.

 

Terkait pada munculnya sejumlah kasus korupsi yang menyeret pejabat di daerah, kesalahan itu jangan hanya dibebankan kepada pemerintah karena adanya otonomi daerah. Reformasi memberikan perubahan kewenangan, termasuk pada partisipasi aktif partai politik dalam menentukan kebijakan. Kepala daerah dan anggota DPRD yang ada sekarang merupakan pilihan partai politik yang ada.

 

Dalam posisi inilah, kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh elite di tingkat daerah sekaligus menunjukkan kesalahan partai politik dalam mem- bina kadernya. Partai politik yang bersangkutan tidak boleh lepas tangan, sebab masyarakat isa meminta pertanggungjawaban atas penyelewengan yang terjadi kepada partai politik yang bersangkutan. Semua ini memang menunjukkan dekadensi moral berpolitik di negeri ini.

 

Thamrin Amal Tamagola

 

POKOK persoalan yang mendasar adalah lemahnya kontrol kelembagaan dan kurangnya inisiatif masyarakat untuk melakukan koreksi. Korupsi dianggap lumrah, sebab wajar seorang pemimpin mendapatkan sesuatu yang lebih dibandingkan dengan yang diperoleh rakyat.

Jika otonomi daerah selalu dikhawatirkan melahirkan raja-raja kecil, hal tersebut sudah terjadi. Ini tidak mengejutkan, sebab sudah dapat diperkirakan sebelumnya. Persoalan yang dulu tidak muncul saat ini silih berganti mengemuka karena kewenangan yang besar diberikan kepada legislatif di daerah. Mereka cenderung berlebihan memanfaatkan kekuasaan.

 

Selain untuk mengelola dana legislatif sendiri, kewenangan diberikan pula kepada legislatif untuk mengawasi penggunaan anggaran daerah. Kewenangan ini dengan mudah dibelokkan untuk kongkalikong dengan eksekutif melakukan korupsi tanpa kontrol. Ini yang saya namakan “konspirasi tahu sama tahu”.

 

Terkadang masih ada peluang untuk saling memanfaatkan. Ketidakseimbangan kemampuan digunakan untuk beradu-tekan dengan pihak lain. Daerah otonom yang mestinya dipandang sebagai sebuah unit penyelenggara pelayanan masyarakat, pada akhirnya diperebutkan sebagai kuda tunggangan untuk memperkaya diri.

 

Pada ujungnya, persoalan korupsi yang dulu tidak pernah mencuat ke permukaan, sekarang mulai bermunculan. Para tersangka kasus korupsi menjadi lebih beragam, tidak hanya dari kelompok eksekutif saja. Sebagian orang menilai, pengungkapan kasus korupsi di daerah muncul karena cemburu ada yang merasa “tidak kebagian”.

 

Terungkapnya kasus korupsi yang dilakukan para elite di daerah bisa saja menumbuhkan kembali semangat pemerintah pusat kembali menarik otonomi daerah. Tetapi, ini bukan solusi paling mujarab untuk menyelesaikan persoalan. Pengambilan kewenangan ke tingkat pusat tidak serta-merta menurunkan tingkat korupsi. Soalnya, yang berubah hanya pola distribusi dana yang dikorupsi, sementara besaran dananya diyakini tidak akan jauh berubah. (SIDIK PRAMONO)

SUMBER: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/09/Fokus/172213.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: