Kita Belum Pernah Dewasa

 

Oleh Mohamad Sobary

 

KITA harus, misalnya, memperoleh pendidikan yang baik, dan hal itu hanya ada di sekolah yang juga baik, dengan biaya mahal. Apalagi di sekolah atau perguruan tinggi terbaik. Keluarga yang mampu menembus batas struktural ini sekali lagi harus berhadapan pula dengan persyaratan psikologis: punyakah ia kemampuan dan bakat akademis, keuletan, dan usaha tak kenal lelah untuk bisa lulus dengan baik, dan kalau mungkin, terbaik?

 

Asumsinya, lulusan terbaik akan dengan sendirinya memperoleh lapangan kerja terbaik pula di masyarakat, dengan gaji istimewa dan segenap fasilitas yang juga istimewa: rumah dinas, mobil dinas, dan semua dibiayai kantor, dan, kalau perlu, bukankah membeli rumah dan mobil lebih mewah dengan uang sendiri pun mampu?

 

Setelah lima tahunan bekerja, kita jadi semakin profesional dan harga kita di pasaran kerja meningkat. Kita dibutuhkan di mana-mana dan di muka bumi ini kita bisa berjalan tengadah, penuh percaya diri. Dasi kita mengilap, dan ganti-ganti.

 

Sebentar-sebentar rapat kerja, konferensi, musyawarah nasional, dan urusan dinas lainnya, yang membuat kita tampak lebih penting dan jarang di rumah. Lama-lama, jarang di rumah lalu menjadi ukuran betapa penting posisi kita.

 

Mereka yang menduduki jabatan publik-pejabat-tampak lebih “gemebyar” lagi. Biarpun asalnya dari ndeso kluthuk, untuk melepas jas pun kini perlu seorang ajudan. Ini “ritus” sosial priayi baru, ningrat baru, kelas utama baru, dan gaya orang kaya baru di masyarakat Indonesia modern pascapenjajahan. Pelan-pelan kita belajar menikmati fasilitas.

 

Dan pelan-pelan pula ki- ta belajar lupa bahwa ada yang wajib dipertanggungjawabkan kepada publik. Akhirul ka- lam, kita juga pelan-pelan belajar meyakinkan diri untuk tak perlu merasa wajib mem- bedakan apa yang punya negara dan kepunyaan pribadi. Kita cepat belajar mabuk dan lupa diri.

 

Ini kira-kira akibatnya jika kita terlalu memandang penting orientasi kultural untuk menjadi terpandang tadi. Memang tidak dengan sendirinya salah, bahkan orientasi macam ini merupakan gejala umum di mana- mana. Tetapi, marilah kita amati perjalanan orientasi macam itu di dalam tata hidup kemasyarakatan kita.

 

DI beberapa kelompok etnis, menjadi orang terpandang berarti menjadi bagian atau ingin tampak seperti kaum elite lokal, kalangan ningrat, priayi, yang bekerja seminimal mungkin, dalam tiap jenis pekerjaan halus, dengan memperoleh pelayanan istimewa. Di tingkat nasional, orientasi itu menggiring kita menjadi bagian dari kaum penguasa, the establishment, dengan tingkah laku minta serba dilayani .

 

“Salahkah orientasi itu?”

 

Dalam dirinya sendiri ingin menjadi terpandang itu bisa sama sekali tidak salah, terutama kalau kita menerapkannya di dunia bisnis. Tetapi, apabila itu berlaku di birokrasi pemerintahan-birokrasi publik-salah satu sumber sikap korup mungkin terletak di situ. Kerja keras tidak diutamakan, menuntut pelayanan dan hak- hak istimewa dinomorsatukan bisa membikin bangkrut negara. Sekarang jelas, ada beberapa pejabat atau mantan pejabat yang kaya raya, tetapi negaranya miskin dan papa.

 

Di masa penjajahan, golongan ini juga belajar “menjajah” karena ia menjadi bagian dari pangreh praja. Meskipun kemudian diubah menjadi “pamong praja”, kita tahu perubahan itu hanya terjadi pada tingkat struktur, bukan pada sikap kejiwaan kita.

 

Sampai hari ini, kesadaran para pejabat publik kita mencerminkan jiwa penguasa dan orang dengan enteng berkata, “Saya yang berkuasa. Merah hijaunya keadaan, sayalah yang menentukan.”

 

Rasa bangga dalam posisi itu membuat kita lama-lama tak malu bersikap sangat arogan. Posisi sosial politik kita membuat kita menjadi terlalu istimewa. Di mana-mana kita diutamakan. Di jalanan yang macet total kita didahulukan. Di jalan tol kita dilarang bayar. Dalam jamuan yang padat, kita “dimohon” mendahului orang banyak.

 

Jiwa, cara pandang, dan sikap dan tingkah laku feodal tetap kita bawa ke mana-mana di zaman ini. Jangan lupa, jiwa, cara pandang, sikap dan tingkah laku ini saja sudah bersifat korup terhadap hak-hak dan jatah publik, tetapi mengapa kita terima juga?

 

Sekali lagi, inilah akibat buruk orientasi kultural untuk menjadi terpandang lewat cara menjadi pegawai di dalam jabatan publik. Kita pun ingin kaya dari jabatan. Sejarah akan lain apabila, misalnya, sejak awal tiap kelompok etnis dalam masyarakat kita membangun orientasi kultural bagi anggota- anggotanya untuk lebih mengutamakan menjadi pedagang, atau pengusaha, dan memberi nilai tinggi profesi itu di dalam hidup.

 

Profesi pedagang atau pengusaha menuntut, tetapi juga sekaligus memberi kemerdekaan jiwa para pelakunya. Kemerdekaan jiwa itu sangat penting untuk pengembangan jiwa dan watak bangsa secara keseluruhan.

 

Pegawai memang bukan orang terjajah seperti budak, tetapi ia bukan orang merdeka dan sukar bagi mereka mengembangkan sikap dan jiwa yang benar-benar bebas, mandiri, merdeka. Siapa bilang merdeka orang yang membungkuk kepada atasan dengan segenap basa-basi itu?

 

Proses merayapi jenjang demi jenjang jabatan, dan aspirasi menjadi terpandang, termasuk karena kaya, mungkin diam-diam membawa rasa pedih, penuh luka, dan di sana sini meninggalkan dendam tak terucap dan sering tak jelas kepada siapa dendam tertuju.

 

Kepedihan, dendam, dan luka itu mungkin sekadar karena iri atau cemburu kepada pihak lain yang naik lebih cepat dan menikmati fasilitas lebih banyak, dan lebih kaya. Iri juga tertuju kepada orang muda yang beruntung dan cepat menanjak dan juga cepat kaya secara mencolok.

 

Ini repotnya mentalitas pegawai yang tak punya jiwa merdeka. Apalagi lingkungan memberinya peluang untuk serba iri macam itu. Maka, ketika tiba masanya kita naik ke posisi penting, dan berkuasa, yang haram pun kini lalu jadi halal. Kita lantas lupa diri seperti disebut tadi dan hidup pun disibukkan oleh jor-joran dan saling pamer kekayaan di tengah impitan kemiskinan massal. Tetapi, kita tak merasa malu.

 

LINGKUNGAN kita tidak sehat. Di dalam birokrasi memang terdapat banyak orang baik dan lurus hidupnya, tetapi di mana pun birokrasi diwarnai orang-orang ambisius dan serba iri. Lurah iri kepada camat dan camat iri kepada bupati, sedangkan bupati iri kepada gubernur, sang gubernur iri kepada menteri dalam negeri, dan seterusnya, iri, iri, dan iri.

 

Mentalitas seperti ini berkembang sejak zaman Daendels sampai orde sekarang dan boleh jadi sampai orde nanti. Seja- rah kita telah melintasi abad demi abad, dan sebagai bangsa merdeka, usia kita sudah hampir 58 tahun, tetapi saya kira kita belum pernah kelihatan cukup dewasa secara politik. Kita tak pernah belajar dari sejarah.

 

Tuntutan kultural untuk menjadi orang terpandang tak bisa membuat mahasiswa atau sarjana sekalipun bersikap kritis. Di zaman Orde Baru yang panjang, stabil, dan monoton, hidup terasa serba pasti, tetapi kita tak boleh punya pendirian berbeda dari main stream. Sikap kritis dilarang.

 

Ketika masih mahasiswa, kita masuk suatu organisasi, dekat para senior yang sudah mapan dan jadi orang terpandang. Ia menjadi kiblat. Kita belajar basa-basi kekuasaan di sana. Sesudah lulus sebagai sarjana, kita masih harus berkiblat kepada senior tadi. Jalur politik kita punya patron yang jelas. Di sana kita belajar lebih fasih seni menipu diri dan orang lain.

 

Ini berlangsung tanpa keluhan biarpun kita kehilangan kemerdekaan sebagai makhluk berpikir. Kehilangan identitas diri pun tak menjadi soal asal kita terpandang. Short cut politics, yang disebut Koentjaraningrat “mentalitet menerabas”, menjadi pilihan strategi hidup kita. Ini jalan ringkas, cepat, dan mudah. Kita menolak pilihan kerja tekun yang panjang dan melelahkan.

 

Menjadi peneliti, dosen, guru, seniman, atau kaum intelek tak begitu menarik minat. Jalan politik kita utamakan. Di masyarakat kita, jalan itu mudah mengantar orang bermental sontoloyo sekalipun untuk menjadi bupati, wali kota, atau untuk duduk megah di DPR atau DPRD.

 

Kita iri kepada Pak Harto yang berkuasa lama. Kita marah. Mungkin juga dendam. Tetapi kira-kira, mengapa kita sendiri menirunya? Mengapa kita ambisius dan haus kekuasaan pula?

 

Otonomi daerah yang diusulkan bertahap, mulai dari tingkat satu dulu kemudian kelak disambung ke tingkat dua setelah cukup belajar, kita tolak. Otonomi harus langsung dari tingkat dua. Apa ini namanya bila bukan kehendak berkuasa?

 

Sekarang kita sendiri yang menjadi ketua DPRD. Anggota- anggotanya pun kita. Wali kota, atau bupati, sudah di tangan kita.

 

Akan tetapi, kita tak cukup paham mengatur bagaimana DPRD harus bersikap terhadap bupati, atau wali kota, dan sebaliknya. Segalanya terlihat semrawut, tumpang tindih, berantakan.

 

Dalam iklim macam itu, rakyat lagi yang kita sembelih sebagai korban. Duit rakyat dijarah rayah oleh raja-raja kecil mereka sendiri. Reformasi mencatat prestasi penting: perataan korupsi.

 

Kita tahu korupsi bukan cuma efek samping dari ketidakjelasan aturan birokrasi kita. Juga bukan sekadar karena ada kesempatan. Hasrat menjadi terpandang-karena berkuasa dan kaya-yang kita sahkan sebagai orientasi kultural yang penting itu sejak dini sudah membawa bibit terpendam untuk korup.

 

Kita tidak malu melihat kegetiran ini karena malu itu milik orang dewasa, sedangkan kita, sekali lagi, belum pernah tampak dewasa.

 

Otonomi daerah, dan memberi kesempatan putra daerah memimpin, secara politik sehat dan wajib. Tetapi, makin lama makin jelas kita ini egois, berorientasi primordial dan golongan sentris. Kiblat nasional kita sempit sekali. Dan kita tak terampil untuk bersikap rendah hati, dan bertanya, pantaskah kita menjadi pemimpin?

 

Kita hanya punya pemimpin daerah, pemimpin kelompok, kepala suku, dan bukan tokoh nasional tulen. Para politikus yang bergentayangan di Jakarta mungkin masih kaliber kepala suku dan belum memadai untuk menjadi pemimpin bangsa. Tiap pihak terpenjara oleh orientasi kultural maupun politik yang mengerdilkan diri kita sendiri dan membuat kita tak pernah dewasa.

 

Mohamad Sobary Budayawan dan kolumnis.

SUMBER:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/09/Fokus/172191.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: