Nasionalisme Memudar, NKRI Terancam

Kurangnya nasionalisme dan hilangnya spirit kemerdekaan di kalangan generasi penerus bangsa saat ini ternyata membawa dampak atau pengaruh yang cukup besar terhadap keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini.

Berbagai pengaruh globalisasi dan informasi dan kurangnya pendidikan fisik terutama di bidang kesejarahan seakan menjadi ancaman serius bagi generasi muda dalam memaknai dan menggelorakan semangat kemerdekaan di dalam jiwa mereka. Sejarahwan Unand, DR Gusti Asnan mengatakan penyebab utama dari memudarnya semangat nasionalisme dan kebangsaan dari generasi penerus bangsa terutama disebabkan contoh yang salah dan kurang mendidik yang diperlihatkan generasi tua atau kaum tua yang cenderung mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya daripada mendahulukan kepentingan bangsa dan rakyat.

Mereka seakan larut dalam euforia untuk mensejahterakan diri sendiri tanpa melihat bagaimana fenomena yang terjadi di negara kita saat ini, pengaruh kemiskinan yang sekaligus berimbas kepada kebodohan bangsa belum menjadi perhatian serius dari generasi tua atau para elite-elite politik bangsa ini. Gusti juga mengungkapkan pengaruh perkembangan informasi dan era globalisasi yang mulai merebak di negara kita juga menjadi momok yang sangat menakutkan bagi generasi muda. Mereka sudah mulai meninggalkan kebudayaan asli Indonesia dan itu diperkuat lagi dengan semangat globalisasi yang begitu kental dan digelorakan oleh pihak luar. Generasi muda seakan telah meninggalkan ciri khas kebangsaan dan mulai terpengaruh dengan budaya-budaya asing yang mulai menunjukkan taji-nya dan sekaligus telah menguasai seluruh aspek kehidupan di negara kita.

Pengaruh lainnya dari hilangnya spirit kemerdekaan di dalam jiwa generasi muda adalah kegagalan pemerintah dalam menumbuhkan sikap cinta tanah air lewat pendidikan fisik (physic education) terutama melalui pendidikan sejarah. Pemerintah mulai melupakan bagaimana perjuangan rakyat Indonesia tempo dulu dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan sehingga romantika kesejarahan ini tidak lagi dirasakan oleh generasi muda saat ini akibat tidak adanya pendidikan khusus yang diberikan pemerintah pusat kepada mereka. Pemerintah hanya mementingkan ideologi para penguasa namun kurang peduli terhadap masa depan bangsa dan rakyatnya sehingga rasa kebangsaan (nation) tidak terlihat dari generasi penerus bangsa sekarang.

”Saya mengamati kondisi nasionalisme dan kebangsaan di kalangan generasi muda serta spirit kemerdekaan mereka mulai berkurang akibat contoh yang salah dan kurang mendidik serta sikap ogah-ogahan pemerintah yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan. Sehingga rasa nasionalisme yang diharapkan tumbuh di dalam jiwa generasi penerus bangsa kini hanya sebatas wacana saja, tanpa adanya realita yang kita harapkan bersama. Kondisi ini juga disebabkan pengaruh globalisasi dan informasi modern serta era keterbukaan yang mulai melanda negara kita dan inilah yang menyebabkan hilangnya semangat membela tanah air atau kemerdekaan di dalam diri mereka. Kegagalan pemerintah atau penguasa yang kukuh menonjolkan ideologi masing-masing menjadi handicap utama sehingga rasa kebangsaan (nation) dari generasi muda mulai berkurang. Pemerintah juga dinilai gagal dalam menumbuhkan sikap cinta tanah air lewat pendidikan fisik misalnya pendidikan sejarah,” tukas Gusti kepada Padang Ekspres kemarin.

Untuk itu, pemerintah hendaknya perlu mawas diri dan melakukan koreksi diri dalam melakukan tindakan serta mulai memberdayakan generasi muda penerus bangsa supaya dapat memaknai arti dari Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, disamping itu pemerintah juga diharapkan tidak lagi menonjolkan egoisme pribadi dan golongan tetapi mulai peduli terhadap kepentingan rakyat dan bangsanya dan mulai memberikan tempat atau porsi lebih kepada pendidikan fisik bagi generasi muda contohnya pendidikan kewarganegaraan dan tidak lagi mengalami intervensi dari pihak manapun juga.

Sedangkan bagi generasi muda penerus bangsa juga harus mengetahui dan merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya dan tidak mudah terpengaruh dengan era globalisasi dan informasi yang semakin hari semakin canggih dan berkualitas tinggi. Sejarahwan juga harus mampu mensiasati fenomena ini karena disinilah letak tingkat keilmuan mereka bagaimana mengamati persoalan bangsa saat ini menjelang peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke 62.

Merdeka! Biaya Pendidikan Mahal

Presiden BEM Unand, Khalid Syaifullah mengungkapkan bahwa kemerdekaan di Indonesia belum tercapai. Hal ini dapat terlihat dari pendidikan, kemiskinan dan korupsi. Apabila dibandingkan dengan pendidikan dengan Negara lain, pendidikan di Indonesia termasuk mahal. Di Negara-negara lain pendidikan 60%-80% di tanggung oleh Negara sedangkan di Indonesia sendiri hanya 12% bantuan dari pemerintah.

Parahnya lagi, untuk kategori korupsi, tanah air kita masuk kelas menengah ke bawah, di mana pengentasan tindak pidana korupsi belum begitu menggembirakan. Masih terkesan tebang pilih, prinsip kesataraan di mata hukum paptu dipertanyakan. ”Saya berharap pemerintah betul-betul dapat menjalankan amanat UUD 1945, menghukum para koruptor seadil-adilnya dan melaksanakan otonomi daerah dengan tepat demi kesejahteraan rakyat,” ucap Khalid Syaifullah.

Meskipun Indonesia telah medeka selama 62 tahun, tapi biaya pendidikan relatif masih mahal. Buktinya, dengan dalih otonomi daerah dan otonomi kampus, membuat semacam komersialisasi di dunia pendidikan. Dengan angkuhnya, dari waktu ke waktu biaya sekolah naik secara pasti tanpa tergoyahkan sama sekali. ”Makna dari kemerdekaan mengingatkan kita akan arti kebebasan untuk berpendapat, berjuang melawan ketidak adilan antara lain bidang pendidikan dan sosial ekonomi. Faktanya yang terlihat saat ini, seolah-olah telah terjadi komersialisasi pendidikan,” ujarnya.

Dia berharap, para konseptor negeri ini dapat mendengar teriakan para aktifis sosial dan masyarakat untuk lebih berhati nurani dan mementingkan kejahteraan rakyat dan negara. Merdeka sangat bermakna sekali, karena identik dengan kebebasan, walau tak sama. Merdeka adalah bebas dari kesewenang-wenangan, bebas dari kemunafikan dan ketidakadilan. Selama hal itu tidak tercapai, apakah kita patut menyuarakan kemerdekaan kita, sedang mulut, mata ,telinga kita dikunci mati. Di tempat terpisah pengamat sejarah Gusti Asnan mengaku sangat setuju kalau rasa nasionalisme generasi muda sudah tidak kuat lagi. Nasionalis telah tergerus oleh ganasnya arus globalisasi, westernisasi dan modernisasi.

”Mengapa generasi muda, generasi tua pun juga demikian” ungkapnya ketika ditanya rasa nasionalis bangsa saat ini. Menurut dosen Unand itu, Hari Kemerdekaan sesuai dengan yang diungkapkan oleh Founding Father bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Merosotnya rasa nasionalisme tersebut disebabkan oleh dua hal yakni generasi tua mempertontonkan politik yang busuk dan kotor, sehingga meracuni fikiran generasi muda membuat memudarnya rasa nasionalisme. (mg9/mg10)

Padang Ekspres, Minggu, 19-Agustus-2007

2 Tanggapan

  1. saya sangat setuju dengan apa yang di paparkan diatas apalagi mengenai biaya pendidikan di Indonesia yang semakin tahun semakin naik…sebaiknya pemerintah memikirkan masyarakat golongan bawah yang tidak bisa mengenyam pendidikan karena masyarakat bawah takut akan biaya pendidikan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: