Sidang Pembunuhan Man Robert

Kesaksian Mantan Dandim Dibantah

Sidang perdana kasus pembunuhan Man Robert dengan tersangka Serka Tengku Syahril dan Serka Efripen, digelar di Mahkamah Militer (Mahmil) 103 Sumbar, kemarin. Dalam sidang terbuka untuk umum di bawah pengawalan ketat Polisi Militer (PM) dari Detasemen Polisi Militer (Denpom) I/4 Bukit Barisan itu,Hakim dan Oditur Militer (Odmil) sempat membentak saksi, Pasi Intel Kodim 0309 Solok Letkol Urip Sudarsono.

 

16-08-07_hl.jpg

Digiring PM: Terdakwa pembunuhan Man Robert, Serka Tengku Syahril digiring ke ruang sidang Mahkamah Militer 103.

“Macam apa kamu ini? Seorang Pasi intel tidak berani menentang perintah atasan yang jelas-jelas menyalahi aturan. Kamu kan tau, Dandim sedang emosi. Harusnya kamu bisa menjelaskan kepadanya bahwa mengamankan sipil adalah tugas Kepolisian, bukannya TNI atau menunggu hingga emosinya reda. Akibatnya, bukan hanya kamu, tapi anak buahmu yang menjalankan perintah juga jadi korban,” ujar kata Odmil Mayor CHK Ruslan seraya menunjuk-nunjuk ke arah Urip yang kala itu duduk di kursi saksi.

Urip hanya menjawab, “Siap, saya tidak berani menentang atasan,” katanya dengan gaya khas militer. Urip Sudarsono merupakan Pasi Intel yang ditelepon langsung Dandim 0309 Solok, Letkol Inf Untung Sunanto untuk menertibkan masyarakat sipil yang mengambil kutipan di jalan yang amblas dan rusak akibat gempa. Selanjutnya Urip memerintahkan 5 anggota intel yang merupakan anak buahnya untuk penertiban tersebut, hingga berakhir dengan kematian Man Robert. Bahkan tak berhenti di situ, Ruslan juga mempertanyakan mengapa sebagai Pasi Intel, Urip tidak mengetahui kematian Man Robert.

“Harusnya kamu sebagai komandan memberikan pengarahan kepada anak buahmu. Seusai melaksanakan tugas, kamu juga harus memeriksa jumlah peluru dari senjata anak buahmu. Apakah masih lengkap atau di gunakan. Selain itu, seorang Pasi Intel harusnya tau ada masyarakat sipil yang meninggal,” ujar Ruslan seakan-akan tidak percaya Urip tidak mengetahui peristiwa berdarah tersebut. Urip kembali hanya menjawab, “Siap, tidak!” Ruslan selanjutnya membentak, “Man Robert itu bukan pelaku kriminal yang tertangkap tangan, hingga TNI bisa menangkapnya begitu saja. Tapi ia membantu untuk mengatur lalu lintas. Kamu dengar tidak!” Persidangan sendiri harus diundur selama 30 menit, karena harus menunggu kedatangan Kasdam I Bukit Barisan, Brigjen TNI Murtama Dinata.

digiring PM: Terdakwa pembunuhan Man Robert, Serka Tengku Syahril digiring ke ruang sidang Mahkamah Militer 103, kemarin.

Sidang dipimpin hakim ketua Letkol CHK Hidayat Manau dan dibantu hakim anggota, Mayor CHK Puspa Hadi dan Mayor CHK Parman. Sedangkan yang bertindak sebagai penuntut umum adalah Mayor CHK Ruslan dan Kapten CHK Heri Winarto, dari Odmil. Dan penasehat hukum didatangkan dari Kundam I Bukit Barisan, Mayor CHK Zebua dan Kapten CHK Abdul Aziz. Sidang diawali dengan mengadirkan kedua terdakwa dan pembacaan dakwaan. Persidangan hingga pukul 18.00 WIB ini, menghadirkan saksi pertama, mantan Dandim Solok, Letkol Inf Untung Sunanto, dan sopir mobil patroli Kodim dengan nomor registrasi (noreg) 7264-I, Mardi. Sesudah rehat siang, pukul 15.00, diperiksa Pasi Minlog, Kapten Inf Togar Harahap dan terakhir Pasi Intel Kodim 0309 Solok, Letkol Urip Sudarsono.

Dua terdakwa, Serka Tengku Syahril dan Serka Efripen menerima dakwaan yang dibacakan Odmil. Kesaksian mantan Dandim Solok, bahwa dirinya hanya menyuruh anggota Kodim untuk menertibkan kutipan tanpa keterangan lain, dibantah Serka Tengku Syahril. Ia menyatakan bahwa saat itu dirinya diberitakan bahwa Untung beserta keluarganya dalam bahaya karena diancam masyarakat sipil di jalan yang rusak tersebut.

Tengku Sahril da Efripen didakwa dengan dakwaan primair, yakni pasal 338 KUHP jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP dan dakwaan subsidair, yakni pasal 351 ayat (1) dan ayat (3) KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Ancaman hukumannya mencapai 5 tahun penjara.

Tersangka Dapat Diberhentikan

Seusai menghadiri sidang perdana kasus Man Robert di Mahkamah Militer I-03 Padang siang kemarin, Kasdam I/Bukit Barisan, Brigjen TNI Aryono Murtamadinata kepada wartawan menegaskan, di negara hukum seperti NKRI semua orang sama di mata hukum dan tidak ada yang kebal hukum. Dalam hal ini pihaknya tidak akan pernah mengintervensi pengadilan, biarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. “Kita tidak akan mengintervensi pengadilan, biarkan proses hukum berjalan. Siapa pun dia, di negara hukum tidak ada yang kebal hukum,” tegas Jenderal Bintang Satu dari Medan itu. Berdasarkan dakwaan yang dibacakan Odmil, kematian Man Robert berawal terjadi saat mantan Dandim Solok, Letkol Inf Untung Sunanto, pulang dari Pekanbaru bersama keluarganya dan melewati jalan yang rusak akibat gempa, sekitar pukul 19.45 WIB, Minggu (20/5).

Saat jalan antri, mobil yang ditumpangi Untung digedor 2 kali oleh sekelompok pemuda yang tidak dikenal identitasnya. Bukan hanya dirinya, tapi istrinya dan anaknya juga terkejut, hingga Untung langsung keluar mobil. Walaupun tidak berpakaian militer tapi Untung menjelaskan bahwa ia adalah Dandim Solok. Merasa kurang senang, Untung menelpon Pasi Intel, Kapten Inf Urip Sudarsono. Selanjutnya Urip menugaskan 5 anggota intel, Serka Tengku Syahril, Serka Efripen, Serma Ali Gusti Harahap, Serma Rinaldi, Serma Zudiar untuk menertibkan pemuda tersebut. (cr1/ted)

Sumber: Padang Ekspres, 15 Agustus 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: